Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Berdua

Betapa ketakutan itu semakin dalam saja. Tak berdasar. Tak ada hal yang dapat menjadi pijakan. Namun aku tak tenggelam didalamnya. Seperti menyelam ke lautan. Sampai mendapati kegelapan ke ujung mata. Menahan nafas. Sampai dalam sedalam mungkin. Ada yang lebih tahu dari apa yang tidak aku tahu.

Aku berada disana. Diujung jalan itu. Saat tangan-tangan mereka melambai. Memberi isyarat. Diam dan terpaku. Menahan air mata. Entah mengapa, wajah mereka terlihat lebih lembut. Meskipun tak pernah kusentuh. Tak berani. Simpul mereka semakin merekah.  Mengusir dingin yang menyelimuti kami. Mata mereka berbinar. Mataku, perlahan mulai basah. Sampai mereka pergi. menghilang diantara lampu-lampu jalanan yang sepi. Aku masih terdiam disana. Sampai larut.
Share:

Semut Meninggalkan Koloni

Jika sembilan dari sepuluh orang memilih shampo pantene. Aku adalah orang kesepuluh yang tidak memilih shampo pantene. Jika sembilan dari sepuluh orang memilih menjadi pahlawan. Aku adalah orang kesepuluh yang menjadi penjahat. Jika sembilan dari sepuluh orang menjawab “Benar”. Aku adalah orang kesepuluh yang berteriak “Salah”. Jika sembilan dari sepuluh orang memilih terbang. Aku adalah orang kesepuluh yang memilih berlari. Menjadi orang yang berbeda dan memisahkan diri meskipun itu salah. Namun apa salahnya?

Hanya ada dua kemungkinan untuk orang sepertiku. Jika diukur dengan nilai, aku hanya akan mendapat nilai nol atau seratus dua puluh. Menjadi orang paling rendah dan terpuruk sendiri, atau menjadi satu-satunya orang yang akan dilihat.

Seekor serigala penyendiri yang meninggalkan kelompoknya. Berpetualang di belantara liar dan mencari mangsa dalam kesendirian. Penuh dengan keangkuhan dan kesombongan yang menjadi jurang pemisah antara dirinya dan kelompoknya. Aku tidak. Aku bukan seekor serigala penyendiri. Aku hanya seekor semut yang meninggalkan koloninya. Yang tak pernah dilihat karena tak pernah berkerumun. Yang melangkah tidak pada garis yang telah ditentukan. Yang tak pernah saling sapa kala bersua. Tak ada jurang yang memisahkan aku dengan kelompokku. Hanya tembok, tembok yang tipis. Yang membuat aku tetap sendiri meski dalam kerumunan. Semut lain menganggapku aneh. Berjalan semaunya. Tidak jelas kemana arah dan tujuannya. Namun tak ada semut yang tak pernah bekerja keras. Begitupun aku. Hanya saja. Aku punya cara sendiri untuk mencari makan diantara daun-daun selangit, hamparan tembok, atau sela-sela pepohonan.

Dan seperti dalam hidup ini. Ketika orang-orang menggantungkan mimpinya setinggi bintang-bintang malam. Mereka berusaha untuk meraih mimpi-mimpi itu. Berusaha terbang. Aku menggantungkan mimpiku diujung jalan. Yang hanya terlihat saat pagi tiba. Aku berlari sekencang-kencangnya menjemput pagiku sendiri.
Share:

Mencoba Lebih Produktif

Duduk. Merenung. Memejamkan mata. Menggaruk kepala. Melihat langit-langit kamar. Memperhatikan semut yang berbaris. Menyeduh kopi hitam, tanpa gula. Searching di google. Stalking cewek. Baper. Pergi ke atap rumah. Melihat bintang-bintang. Menghisap rokok. Nihil. Sulit sekali menemukan ide untuk ditulis.

Ternyata menjadi sesorang yang produktif itu tidak semudah yang dibayangkan. Yah, tapi aku berniat untuk tidak musim-musiman dalam menulis. Minimal satu kali dalam satu minggu. Apapun itu. Tidak peduli baik atau buruk, bagus atau jelek, bermanfaat atau tidak, menarik atau tidak, sama sekali tidak peduli. Yang penting menulis. Tahu-tahu, sudah jadi.
Share: